Author: admin

Hidup dan Pendakian

Monday, June 30th, 2008 @ 12:46 am

Terinspirasi dengan buku TAIKO yang baru saja aku sampaikan resensinya (baru belajar siy),
ada sebuah perkataan seperti ini : Hidup adalah ibarat pendakian.
Ketika membandingkan sebuah perjalanan hidup dengan sebuah pendakian gunung,
seakan akan kita memandang bukit bukit di bawah setelah hampir mencapai puncaknya.
Puncak dari gunung yang di daki dianggap sebagai tujuan akhir pendakian.
Tapi tujuan sesungguhnya, memperoleh kenikmatan hidup, tidak ditemui di puncak, melaikan dalam kesulitan kesulitan yang menghadang di perjalanan. Perjalanan itu ditandai oleh lembah, tebing, sungai, jurang, serta tanah longsor.


Dan pada waktu menyusuri jalan setapak sang pendaki mungkin merasa ia tak dapat maju lebih jauh atau bahkan kematian lebih baik daripada meneruskan perjalanan.
atau ketika melewati terjalnya liku tebing yang bahkan mungkin sangat licin, kaki bisa saja tergelincir, membawa pendaki meluncur turun kembali atau mungkin tercebur ke dalam jurang.

tapi, bukankah hendaknya kita tetap bangkit dan berdiri?
apapun kesulitan yang menghadang di tengah pendakian, ketika kita menoleh sebentar ke belakang dan merenungi kesulitan yang telah terlampaui hingga kita sampai disini, maka mungkin di sana kita akan kembali menemukan semangat untuk bangkit, tegak berdiri melanjutkan perjalanan. dan merasakan keindahan sebuah perjuangan, yang akan tersia jika kita menyerah di titik ini.

Alangkah bosannya jika hidup bebas dari rasa bimbang dan perjuangan yang melelahkan. Menempuh perjalanan di tempat datar yang lurus mungkin akan terasa membosankan. Mungkin Seperti itu pula kehidupan. Tanpa adanya masalah atau cobaan, hidup mungkin akan terasa hambar dan membosankan. Masalah lah yang bisa membuat hidup kita berwrna, lebih bermakna karena kenikmatan yang timbul setelah melaluinya. Membuat kita berpikir lebih luas terhadap segala sesuatunya, menjadi pribadi yang insyaAllah lebih baik dan lebih dewasa. Tegar dengan keberadaannya. Kokoh dalam pijakannya. Maka ketika masalah datang menyapa bertubi tubi bahkan memporak porandakan hidup yang telah terjalin, seperti halnya angin puting beliung yang menerpa,
bukankah hendaknya kita yang mungkin memar atau berdarah karenanya segera membalut luka dan berusaha tegak kembali? tak ada salahnya kan jika kita memulai kembali dari awal, mendaki kembali gunung itu setelah jatuh dan terperosok jauh ke bawah sana.

Tulisan ini sebenarnya untuk diriku sendiri. setidaknya aku ingin memberi sebuah hikmah dan semangat untuk diriku. dan aku ternyata masih harus belajar untuk mengamalkan pandanganku itu sendiri. sungguh, aku hanya makhluk yang dhoif, masih perlu belajar banyak tentang kehidupan.
masih ada begitu banyak yang harus dibenahi..
hidup itu berproses dan alangkah rugi jika proses yang aku jalani ternyata menjadiknku semakin jauh dari kebaikan.
begitu banyak hikmah yang terpeta dari setiap peristiwa hidup.
dan aku butuh lebih banyak kesabaran dan kebijakan untuk meraihnya.
dan aku berharap aku mampu, setidaknya berusaha untuk mampu.
i wish i could.

Blogging, GherMerd


 


4 Responses to “Hidup dan Pendakian”

  1. sapimoto Says:

    Semua yang menyertai hidup adalah seperti bumbu dalam masakan…
    Jika masakan sudah tanpa bumbu??? Tanpa rasa…
    Kayak orang penyakitan, makan ini dilarang, makan itu dilarang…
    Jelas aja, lha wong mau makan kaki meja sama kaki kursi, jelas aja dilarang…. :D

  2. GherMerd Says:

    lah, justru yg mo makan kaki kursi itu perlu dipertanyakan, penyakit apa yg di derita???hihih

  3. sapimoto Says:

    Silahkan tanya langsung sama mierz

  4. GherMerd Says:

    weks, mierz makan kaki kursi???busyet…makanan mahal kui, wakaka
    panter kurus krempeng, kkkk

Leave a Reply